Penggunaan Gas Bumi dalam bidang transportasi sudah
menunjukan hasil yang memuaskan. Misalnya PGN sebagai perusahaan gas negara
sudah menyalurkan gas bumi untuk
transportasi, saat ini PGN telah mengoperasikan 7 Statiun Pengisian Bahan Bakar
Gas (SPBG), menyuplai gas untuk 8 SPBG mitra, dan mengoperasikan 5 Mobile
Refueling Unit (MRU). Hal tersebut mampu
membuktikan adanya penghematan yang signifikan ketimbang penggunaan bahan bakar
minyak (BBM).
Untuk menjadi sebuah contoh, tahun lalu PT Perusahaan Gas
Negara memasok gas bumi untuk bahan bakar pabrik feronikel milik PT ANTAM
(Persero) Tbk di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Dengan dapat pasokan gas tersebut,
ANTAM dapat menurunkan biaya produksi feronikelnya sebesar US$ 1 per 0,4 kg.
Melalui penggunaan gas, ANTAM dapat lebih menurunkan biaya
produksi feronikel, sehingga menjadikan perusahaan tersebut lebih kompetitif
serta menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi dari lini usaha nikel.
Misalnya saja saat ini, ANTAM mengoperasikan Pembangkit
Listrik Tenaga Diesel (PLTD) 8 x 17 MW. PLTD ini memiliki teknologi dual fired,
artinya bisa menggunakan BBM atau gas sebagai sumber energi. Kemudian ANTAM
juga tengah menyelesaikan pembangunan PLTU kapasitas 2 x 300 MW guna mensuplai
fasilitas pendukung pabrik feronikel di Pomalaa. Pembangunan PLTU ini merupakan
bagian dari Proyek Perluasan Pabrik Feroneikel Pomalaa (P3FP), yang akan
meningkatkan produksi feronikel ANTAM dari 18.000-20.000 ton nikel, dalam
bentuk feronikel (TNi) menjadi 27.000-30.000 TNi per tahun.
Itulah salah satu contoh konkret dari penggunaan gas bumi.
Berikutnya contoh lain dalam penggunaan gas bumi pada sektor strategis misalnya
PGN menyalurkan gas bersih alias gas bumi di daerah Semarang. Kemudian mampu
berkontribusi terhadap pengembangan industri besar nasional, seperti
kelistrikan. Hal tersebut menyusul tuntasnya infrastruktur pipa gas dari
Lapangan Gas Kepodang di Laut Utara Jawa ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap
(PLTGU) Tambak Lorok, Semarang.
Pipa gas dipasang lintas laut dan ditanam di dasar laut
dengan panjang lebih dari 200 km dan berdiameter 14 inch. Melalui infrastruktur
pipa gas yang dibangun telah menyalurkan gas sesuai kebutuhan di PLTGU Tambak
Lorok, Semarang yang dikelola anak usaha PT Perusahaan Listrik Negara
(Persero)/PLN, PT Indonesia Power. Pasokan gas bumi yang didistribusi ke PLTGU
Tambak Lorok, Semarang telah menggantikan BBM dan menghemat triliunan rupiah
biaya operasi yang harus dikeluarkan PLN tiap tahunnya.
Volume gas yang dipasok PGN sesuai dengan total kebutuhan
dari kapasitas pembangkit sebesar 880 MW. Sampai saat ini, PGN telah
menyalurkan sekitar 104 MMSCFD (juta kaki kubik per hari) sampai 116 MMSCFD. Penyaluran
gas ke PLTGU Tambak Lorok berjalan baik, pun sampai saat ini. Di tahun 2015
lalu, PGN menyalurkan gas bumi mencapai 1.591 juta kaki kubik per hari
(MMSCFD). Dari penyaluran gas bumi PGN kepada pelanggan-pelanggannya, oleh
sebab itu terciptanya penghematan nasional sebesar Rp 88,03 triliun per tahun.
Dua contoh kasus tersebut menunjukan dampak positif
penggunaan gas bumi. Penghematan nasional adalah bukti otentik dari perlunya
BBM digantikan dengan gas bumi. Sehingga sektor-sektor strategis seperti
kelistrikan mampu menghemat biaya produksi atau operasi.
Sumber Tulisan:
Tulisan ini disumbangkan untuk jadi artikel situs Si-Nergi.
0 komentar:
Posting Komentar